Bukan Sekadar Padi, Ini Alasan Petani Kapuas Pertahankan Varietas Lokal
KAPUAS - Di tengah dorongan penggunaan varietas unggul untuk meningkatkan produktivitas pertanian, petani di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, masih banyak mempertahankan padi lokal sebagai pilihan utama. Fenomena ini menjadi gambaran menarik tentang bagaimana pengalaman petani, kondisi lingkungan, dan kebutuhan masyarakat turut menentukan pilihan varietas yang ditanam. Bagi masyarakat Kapuas, padi lokal bukan sekadar tanaman pangan, tetapi bagian dari sistem pertanian yang telah berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Kabupaten Kapuas merupakan salah satu sentra produksi padi penting di Kalimantan Tengah. Pada tahun 2025, produksi padi Kabupaten Kapuas mencapai 223.915 ton atau sekitar 34,55 persen dari total produksi padi provinsi, dengan luas panen sekitar 67.531 hektare dan produktivitas rata-rata 3,32 ton per hektare. Salah satu hal yang menarik, sekitar 70–80 persen luas tanam padi di Kapuas masih menggunakan varietas lokal. Kondisi ini menunjukkan bahwa padi lokal masih memiliki posisi yang kuat dalam sistem produksi pangan masyarakat setempat.
Dari sisi produktivitas, kondisi ini tentu menghadirkan tantangan. Sejumlah varietas lokal memiliki produktivitas sekitar 2,5–3 ton per hektare, sementara beberapa varietas unggul mampu menghasilkan produksi lebih tinggi. Produktivitas padi juga masih dipengaruhi oleh serangan organisme pengganggu tanaman, perubahan iklim, keterbatasan sarana produksi, serta penerapan teknik budidaya yang belum optimal. Karena itu, peningkatan produktivitas tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan pertanian Kapuas. Namun, mengganti seluruh varietas lokal dengan varietas unggul bukanlah satu-satunya jawaban.
Varietas lokal merupakan bagian dari plasma nutfah yang terbentuk melalui proses adaptasi panjang terhadap lingkungan dan seleksi yang dilakukan petani dari waktu ke waktu. Pada lahan rawa pasang surut Kapuas, karakter adaptif tersebut menjadi salah satu alasan mengapa padi lokal tetap dipertahankan. Selain sesuai dengan kondisi lahan, beras yang dihasilkan juga memiliki karakter dan cita rasa yang sesuai dengan preferensi masyarakat. Di dalam varietas-varietas tersebut tersimpan keragaman genetik yang berpotensi memiliki sifat penting, seperti ketahanan terhadap hama dan penyakit, toleransi terhadap cekaman lingkungan, maupun kualitas beras yang baik.
Karena itu, konservasi padi lokal tidak harus dipertentangkan dengan upaya peningkatan produktivitas. Keduanya dapat berjalan berdampingan. Varietas unggul dibutuhkan untuk mendukung peningkatan produksi pangan, sementara varietas lokal perlu dijaga sebagai sumber keragaman genetik yang dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan tanaman. Pendekatan konservasi bukan berarti mempertahankan seluruh sistem pertanian tanpa perubahan, tetapi memastikan kekayaan genetik tetap terdokumentasi, terlindungi, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, termasuk melalui Project Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI).
Di balik setiap bulir padi lokal Kapuas terdapat sejarah adaptasi, pengetahuan petani, serta kekayaan genetik yang terbentuk melalui proses panjang dan tidak dapat digantikan dalam waktu singkat. Mempertahankannya bukan berarti menolak inovasi atau varietas unggul, melainkan memastikan Indonesia tidak kehilangan sumber daya genetik yang mungkin dibutuhkan untuk menghadapi tantangan pertanian di masa depan. Dengan menjaga keberagaman padi lokal sekaligus mendorong inovasi dan peningkatan produktivitas, konservasi dan pembangunan pertanian dapat berjalan beriringan untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.